Ming. Okt 17th, 2021

ACEHSIANA.COM-Banda Aceh–Saat ini, era digital sudah sangat familiar dengan sebagian besar masyarakat kita. Untuk kepetingan positif, era digital ini sangat membantu semua sendi kehidupan, tapi tahukah kita sisi negatif yang timbul dari era ini juga sangat banyak. Pada artikel ini penulis akan coba mengupas sisi negatif era digital bagi dunia anak-anak terutama para pelajar yang kecanduan game online dan langkah yang harus dilakukan.

Zaman sekarang sejak kecil anak-anak sudah mengenal berbagai jenis gadget dan teknologi modern. Akan tetapi, penggunaan gadget yang berlebihan, terutama untuk main game, bisa membuat anak kecanduan game dan ini sangat berbahaya.

Saat ini, fenomena game online yang sedang merasuki hampir semua lapisan masyarakat, anak-anak, remaja bahkan orang tua yaitu sebuah game “Domino”. Orang rela menghabiskan waktu untuk bermain game tersebut dari pagi sampai dini hari, mulai dari warung kopi, tempat nonggrong, kamar tidur dan tempat lainnya hanya untuk mengejar yang namanya chip, chip, chip dan chip.

Kenyataan ini mungkin tidak bisa kita batasin untuk orang-orang dewasa, karena itu hak mereka, tetapi bagaimana dengan anak-anak kita yang notabene masih pelajar, apalagi kondisi pandemi sekarang hampir seluruh sekolah belum menggelar belajar mengajar secara tatap muka tentunya anak-anak akan memiliki waktu cukup banyak untuk terpengaruh dengan fenomena game online ini. Bagi para pembaca yang biasa menjadi penikmat kopi di Aceh, tentunya fenomena kecanduan game online bagi remaja seumuran sekolah bukan lagi hal yang asing, tetapi sudah menjadi pemandangan sehari-hari di warung kopi, namun apa tindakan yang pernah kita lakukan sebagai masyarakat yang wajib memiliki fungsi kontrol sosial?

Sudah banyak kasus anak kecanduan game dan sulit untuk melepaskan ketergantungan ini, bahkan bisa menjalar ke arah kriminal. Dua berita yang diterbitkan oleh media online beritakini,co sangat mengejutkan kita semua, dimana disebutkan dalam judul beritanya “Motif remaja Pidie Jaya bobol toko ponsel ternyata butuh uang untuk beli chip game online” dan ada satu kasus lagi yang diberitakan dengan judul “Tidak ada uang beli chip dua remaja rampas tas wanita di Pidie Jaya”.

Kedua contoh kasus di atas kejadiannya di Aceh ya!, bukan di pulau Jawa apalagi di luar negeri, mungkin kalau kalau di pulau Jawa atau luar negeri lebih dasyat lagi kejadiannya. Kejadian kecanduan game online bagi remaja, tentunya harus menjadi perhatian khusus kita semua. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah yang meliburkan sekolah karena pandemi, karena ini adalah bencana dunia dimana semua negara juga melakukan antisipasi ini agar penyebaran corona tidak meluas. Lalu kita juga harus menyalahkan guru-guru? tentunya tidak. Karena banyak sekolah juga sudah menyiapkan Learning Management System (LMS) dengan berbagai basis aplikasi belajar online, yang bertujuan melayani pembelajaran siswa secara online. Tetapi pembelajaran online tetap ada sisi lemahnya, karena guru tidak bisa mengontrol siswa secara langsung. Seperti pepatah orang Aceh “Daripada Buta Goet Juleng_Daripada Buta Bagusnya Juling_red”, inilah yang cocok kita analogikan untuk pembelajaran online sekarang, Nah… disinilah dibutuhkan perhatian khusus dari orang tua untuk memaksimalkan mengontrol aktivitas anak-anak selama kegiatan Belajar dari Rumah (BDR), jangan sampai mereka menghabiskan waktu untuk bermain game online.

Tanda-tanda anak kecanduan game

Mari kita pelajari sebagian tanda-tanda anak kecanduan game yang penulis rangkum dari berbagai sumber.

Pertama, Perubahan bawaan. Anak menjadi rewel atau bahkan mengamuk ketika diminta menghentikan aktivitasnya bermain game dan kembali tenang saat diperbolehkan bermain lagi. Seiring berjalannya waktu, anak mungkin akan menjadikan game sebagai pelarian ketika ia menghadapi masalah

Kedua, Anak tidak peduli dengan nilai akademis di sekolah. Anak lebih mementingkan kesenangannya bermain game ketimbang kewajibannya untuk sekolah dan menyelesaikan tugas-tugas.

Ketiga, Menarik diri dari lingkungan. Anak menjadi malas menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, dia lebih senang menyendiri untuk bermain game ketimbang bersosialisasi.

Nah, sebagai orang tua tentunya masalah kecanduan game online pada anak jangan dianggap hal yang sepele, karena berpotensi timbulnya masalah lain. Orang tua perlu mencari strategi yang jitu agar anak-anak tidak kecanduan terhadap game online. Berikut penulis akan membagikan beberapa langka-langkah agar anak tidak kecanduan game, yang dihimpun dari beberapa sumber.

Pertama, Membuat Sebuah Peraturan yang Disepakati Bersama.

Dalam keluarga ayah dan ibu memiliki peran yang sangat besar dalam mengelola rumah tangga termasuk membuat aturan yang harus disepakati bersama, salah satunya seperti kapan boleh memegang handphone, menghidupkan televisi, kegiatan mengaji, kegiatan mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Tentunya orang tua harus berkomitmen dalam menjalankan kesepakatan tersebut supaya anak tidak kecanduan terhadap permainan game yang ada saat ini.

Kedua, Padatkan Aktivitas Anak dengan Kegiatan Diluar Jam Sekolah.

Selain aktivitas sekolah yang rutin dilalui oleh anak, baiknya kita juga harus memberikan aktivitas lain kepada mereka, seperti mengikuti pengajian, private mata pelajaran tertentu atau latihan olah raga dan seni

Ketiga, Mengajaknya Terlibat Dalam Pekerjaan Rumah.

Langkah lain untuk membatasi anak bermain game, yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan mengajak sang anak terlibat dalam kegiatan, aktivitas atau pekerjaan-pekerjaan di rumah. Misalnya saja dengan mengajaknya memasak, mengajak anak untuk berkebun di rumah, mengajaknya untuk membatu membersihkan rumah atau bisa juga dengan memberinya tanggung jawab atas sesuatu hal yang masih bisa dilakukannya. Dengan begitu setidaknya akan ada waktu yang harus di alihkan untuk melakukan pekerjaan tersebut ketimbang untuk bermain game.

Keempat, Mengawasi Anak 

Apabila kita sebagai orang tua selalu mengawasi anak-anak kita, baik saat belajar ataupun bermain tentu segala sesuatu yang tidak kita inginkan bisa terhindarkan. Namun bila sebaliknya kita lalai dalam mengawasi anak, bisa jadi anak tersebut akan melakukan hal semaunya yang bisa berakibat buruk bagi dirinya sendiri seperti kecanduan bermain game online.

Kelima, Jadilah Teladan yang Baik

Kebanyakan anak menjadi kecanduan game online karena kebanyakan waktu luang dan tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Anda sebagai orang tua harus mampu menjadi teladan dan contoh yang baik bagi anak, misalnya berilah teladan bagaimana menghabiskan waktu luang seperti berolah raga, membersihkan halaman rumah, membaca, dan yang lainnya.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi renungan kita semua, orang tua, guru dan masyarakat untuk terus menjaga generasi bangsa ini, agar menjadi generasi yang taat, tekun dan berguna bagi agama sertaq negara. Amin Ya Rabbal Alamin.

Penulis : Fitriadi Mahmud/Sekum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Wilayah Aceh

Editor : Enzuharisman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *