Jum. Jul 1st, 2022

Anak itu baru saja pulang dari rumah kawannya, Masih terbayang aroma pakaian baru milik temannya yang dibeli sebulan lalu.

“Kee sudah beli baju baru? aku sudah,” kata temannya saat anak itu main ke rumahnya.

(Red: kee adalah sebutan khas untuk kamu di Sabang)

Si anak menggeleng.

“Sini, aku kasih tengok,” kata temannya lagi dengan bersemangat. Ditariknya tangan anak itu.

Di kamar, segera dibuka lemari dan dikeluarkan sepasang sepatu, dua pasang pakaian, tali pinggang,

“Ini semua baju Lebaran punya kee” tanya si anak

“Iya,” jawab temannya sumringah, matanya berbinar-binar, “paten, kan?”

“Iya, paten kali.”

Si anak segera  Pulang. Menemui ibu yang sedang memasak di dapur. Membuat peyek, kacang dan kue bawang pesanan beberapa temannya untuk Lebaran.

“Mak, Adek nggak beli baju baru? Didi sudah, Mak. Bajunya dua, celana dua, ada sepatu, dan tali pinggang baru,” suaranya bersemangat.

Ibu terdiam.. raut wajahnya berubah, segera mengambil centong dan mengangkat gorengan peyek.

Teringat ia beberapa bulan ini keuangan keluarganya sangat buruk. Sejak korona mewabah. Ibu tak bisa menitipkan kue ke warung-warung seperti biasanya. Banyak warung tutup. Kalaupun ada satu-satu yang buka, pelanggannya gak rame. Ada warung yang sedikit rame didekat bundaran simpang garuda itu terlalu jauh dari kampong tempat dia tinggal, sehingga susah untuk ngantar kue tiap pagi, sehingga dia hanya titip makanan kering saja perminggu, pun skrg Banyak kue tersisa krn kata yang punya warung sekarang sepi sejak PNS dilarang ke warung kopi. Ayah yang biasanya bekerja sebagai staf rendahan disebuah kantor vertikalpun sekarang nyaris tak ada  kegiatan karena kantornya seperti gudang kosong yang berhantu kuntilanak, ya dia terlanjur dicap pegawai negara, padahal kerjanya antar surat saja.

Dulu saat masih normal tidak ada korona dia sering jadi sopir driver untuk bawa tamu di kota wisata ini, keramahan dan bahasa inggris pas2an yang dia punya jadi bekal, sehingga ada sepupunya dari banda aceh menitipkn sebuah mobil innova tahun rendah untuk disewa2kan padanya, tapi mobil itu sudah sebulan tak jalan dan terparkir cantik di samping rumahnya karena tak ada bensin.

Agar dapur tetap mengepul, ayah alih profesi. Kini jadi pedagang  yang jajakan aneka kebutuhan rumah tangga dengan sepeda motor tua, Tak selalu dagangannya habis. Kadang-kadang ayah juga membantu menjual barang2 milik temannya dipasar, Pendapatannya tak besar, tapi setidaknya ada. Meskipun dimata  orang dia dianggap berkecukupan, bayangkan saja dia kerja dibadan negara dan naik mobil innova, plus rumah beton miliknya yang padahal rumah warisan orangtuanya dan innova titipan sepupunya,

“Beli, Adek bisa beli baju baru, tapi Mamak sengaja gak beli,” ujar ibu dengan suara ditegar-tegarkan, padahal matanya sudah hampir meleleh.

Pertanyaan itu menohok hatinya selaku orang tua. Pertanyaan biasa memang, tapi saat ditanyakan dalam keadaan sulit seperti ini rasanya begitu menggores-gores perasaan. Anaknya ada empat, dua dipasantren diaceh,  satu sekolah dasar dan  satu lagi masih kecil belum sekolah, ya dialah anak Satu yang berdiri di depannya sekarang ini.

“Kenapa, Mak?”

“Korona hai” kata si mamak.

“Korona?”

“Iya. Adek lihat, kan? di pasar ramai sekali, Mamak nggak berani ke pasar, ada korona. Kalo mamak ke pasar mamak bisa mati kena korona, Nanti kalau sudah tak ada korona lagi kita ke pasar, kita beli di banda kita ke pasar yang ada eskalatornya, kan?”

“Sekarang kapal gak boleh bawa penumpang, jadi kita gakbisa ke banda!”

Si mamak sepertinya punya alasan tepat.

“Iya, Mak. Tapi kata Didi kalau gak ada baju baru nggak jadi hari raya,” matanya masih menyiratkan harapan.

Ibu menghela napas. Berat. Sangat berat..

“Siapa bilang? lagi pula, coba Adek pikir, kita beli baju baru, tapi nggak bisa ke mana-mana karena korona, harus di rumah aja, siapa yang mau tengok emangnya?” ibu berusaha tersenyum lucu padahal gak lucu.

Ibu melanjutkan, “Kita gak bisa pulang ke rumah nenek di kampung, tidak bisa ke rumah makcik di banda, kita di rumah aja. Kan Adek udah lihat di TV ?”

Si anak mengangguk. Tapi terus menjawab.

“Tapi mak kata si didi mamaknya beli baju bukan di banda, tapi ditoko samping bank dipasar Sabang, kan gak harus ke banda ke pasar eskalator??’

Blep.. si mamak mati kutu, gak tau jawab apalagi. Terdiam, persis seperti tivi yang tiba2 mati lagi kena mati lampu dari PLN.

GEDEBUUUM..

suara pintu terbanting, membuyarkan suasana.

Rupanya si ayah terburu mau ke mesjid karrna udah azan dhuhur, belum sampai depan pintu depan dia sudah balik lagi ke kamar… Sepertinya ada yang tertinggal.

Ya rupanya dia ketinggalan HP androidnya,

Sudah sebulan ini tiap sholat dhuhur dia bawa HP padahal dulu pantang baginya kalo ke mesjid bawa HP, selidik punya selidik ternyata dia jadi wajib bawa HP karena setiap selesai sholat dhuhur coba mampir ke warung temannya diseputaran simpang dekat masjid agung untuk konek wifi gratis, ya ternyata sudah hampir dua bulan dia gak ada paket di HPnya. Berharap ada info bagus masuk ke WA nya, siapa tau ada tamu yg mau sewa mobil, walaupun dia tau itu harapan sia2, lha kapal penumpang saja tak beroperasi mau datang tamu darimana.

“Pakek uang kakak aja mak!”, Kata si kakak anak nomor tiga yang sekolah dasar tiba tiba ikut nimbrung ngobrol ke dapur.

“Uang 2juta punya kakak kan ada, pakek itu aja beli baju adek, kalo kakak kemaren udah dikasih jilbab punya kakak dapat dari pasantren”

Si mamak makin terdiam, gak tau harus menjelaskan apalagi, hatinya makin remuk untuk sekedar jujur ke anaknya bahwa uang 2juta tabungan anak sekolah punya si kakak udah terpakai habis oleh ayah separuhnya buat modal jualan timun suri kemarin, dan satu juta lagi juga ditarik dari tabungan untuk biaya abang dan kakaknya pulang dari pasantren, sejak korona anak pasantren wajib dipulangkan ke kampung masing2.

Makin terdiam si mamak ketika menoleh ke beras dan minyak goreng dirumah hampir habis, hatinya kepingin seperti tetangganya kemarin dapat beras dan sembako korona dari kantor keuchik, tapi apa dayanya karena rumah beton peninggalan orangtuanya dan sebuah mobil innova terparkir didepan rumahnya jadi alasan dia tidak berhak dapat bantuan dari pemerintah kata orang2.

Prinsip hidupnya sangat pantang untuk mengemis, “meunyo na tapajoh, meunyo hana tapiyoh” begitu katanya, petuah lama dari alm ayahnya yang sangat bersahaja dimasanya.

Si anak Kini ia tak lagi resah, dia yakin akan dibelikan baju hari raya seperti yang kakaknya sampaikn tadi, dari uang tabungan siswa 2juta. Padahal tak ada lagi. Ah sudahlah…

 Lebaran tinggal beberapa hari lagi. Gundahnya sudah berpindah ke hati mamak. Mamak kembali menggoreng peyek dan kue bawang, Matanya makin memerah, air matanya mulai menetes, segera diseka dengan jarinya Tapi dia Pura-pura perih karena asap…

 “Uroe raya katoe, bajee baroe tan meupat”

#KisahDariPulauWeh

Penulis: Albina Arrahman

Editor : Enzuharisman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *