Jum. Jan 21st, 2022
Kemdikbud Mulai Salurkan Bantuan Kuota Internet

ACEHSIANA.COM, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyiapkan 5 (lima) strategi guna menjalankan pembelajaran holistik. Hal itu dilakukan guna mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Demikian siaran pers Kemdikbud dengan nomor 078/Sipre/A6/IV/2020 pada Jumat (3/4) di Jakarta.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, salah satu indikator yang digunakan merujuk pada peningkatan nilai Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia.

“Sesuai arahan Presiden, pengembangan sumberdaya manusia Indonesia (SDM) unggul harus bersifat holistik. Tidak hanya literasi dan numerasi, tetapi pendidikan karakter memiliki tingkat kepentingan yang sama,” ujar Nadiem Makarim.

Dikatakan Nadiem, bahwa Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat nilai PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018, Membaca (peringkat 72 dari 77 negara), Matematika (Peringkat  72 dari 78 negara), dan Sains (peringkat 70 dari 78 negara). Nilai PISA Indonesia juga cenderung stagnan dalam 10–15 tahun terakhir.

Lebih lanjut Nadiem menguraikan 5 strategi untuk meningkatkan nilai PISA Indonesia yaitu pertama, transformasi kepemimpinan sekolah. Strategi ini dilakukan dengan memilih generasi baru kepala sekolah dari guru-guru terbaik. Selain itu, tambah Nadiem, Kemendikbud akan mengembangkan marketplace bantuan operasional sekolah (BOS) online.

“Marketplace BOS online ini bertujuan memberikan kepala sekolah fleksibilitas, transparansi, dan waktu meningkatkan kualitas pembelajaran,” terang Nadiem.

Strategi kedua, menurut Nadiem, adalah transformasi pendidikan dan pelatihan guru. Nantinya, lanjut Nadiem, Kemendikbud akan melaksanakan transformasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk menghasilkan generasi guru baru. Kemendikbud, kata Nadiem, juga akan mendorong munculnya kurang lebih 10.000 sekolah penggerak yang akan menjadi pusat pelatihan guru dan katalis bagi transformasi sekolah-sekolah lain.

“Sementara strategi ketiga adalah mengajar sesuai tingkat kemampuan siswa. Strategi ini akan dilakukan dengan cara menyederhanakan kurikulum sehingga lebih fleksibel dan berorientasi pada kompetensi. Selain itu, akan dilakukan personalisasi dan segmentasi pembelajaran berdasarkan asesmen berkala,” urai Nadiem.

Nadiem menyebutkan strategi keempat, yaitu standar penilaian global. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), tutur Nadiem, akan digunakan untuk mengukur kinerja sekolah berdasarkan literasi dan numerasi siswa, dua kompetensi inti yang menjadi fokus tes internasional seperti PISA, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), dan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS).

“Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar juga akan digunakan untuk mengukur aspek-aspek non-kognitif untuk mendapatkan gambaran mutu pendidikan secara holistik,” tegas Nadiem.

Adapun strategi terkahir yang diutarakan Nadiem, adalah kemitraan daerah dan masyarakat sipil. Kemitraan dengan Pemerintah Daerah, ungkap Nadiem, dilakukan melalui indikator kinerja untuk Dinas Pendidikan.

“Kita juga akan mendorong ratusan Organisasi Penggerak untuk mendampingi guru-guru di Sekolah Penggerak, penggunaan platform teknologi pendidikan berbasis mobile dan bermitra dengan perusahaan teknologi pendidikan (education technology) kelas dunia, serta menggerakan puluhan ribu mahasiswa dari kampus-kampus terbaik untuk mengajar anak-anak di seluruh Indonesia sebagai bagian dari kebijakan Kampus Merdeka,” pungkas Nadiem.

Pada akhir siaran pers, Nadiem mengharapkan agar semua strategi tersebut mampu membuat pelajar Indonesia menjadi pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yaitu berakhlak mulia, mandiri, kebinekaan global, gotong-royong, kreatif, dan bernalar kritis. (*)

Editor: Darmawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *