Sab. Okt 16th, 2021

Oleh : NURDIN, S.Pd. M.A.

Tanggal 10 Januari 2020 kepala SMA/SMK/SLB se-Provinsi Aceh dilantik. Pelantikan terkait mutasi atau rotasi kepala Sekolah. Selain pelantikan, pada tanggal 11 Januari 2020 (sehari setelah pelantikan) dilaksanakan penandatanganan kontrak kerja antara kepala sekolah dengan Pemerintah Aceh. Kontrak kerja ditandatangani oleh Kepala sekolah, pengawas sekolah, dan kepala Dinas Cabang Wilayah masing-masing. Penandatanganan tersebut disaksikan oleh jajaran Dinas Pendidikan Aceh dan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Aceh.

Para kepala sekolah membawa motivasi baru, semangat baru, sekaligus suasana baru di sekolah tempat tugas. Ada prosesi yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, yaitu pemaparan program kerja kepala sekolah di tempat tugasnya masing-masing. Presentasi singkat (2 menit) di depan Sekda Aceh pada akhir bulan Desember 2019, adalah hal baru yang memberikan kesan positif.

Pertanyaan yang muncul adalah “apakah semua kepala sekolah sudah siap melaksanakan segala program di tempat tugasnya?” Tentu saja ada kepala sekolah yang sudah siap, namun ada juga yang belum tentu mampu melaksanakan semua program. Para kepala sekolah, (khususnya yang baru dilantik jadi kepala sekolah) belum ada pengalaman, meskipun mereka sudah memiliki kompetensi Kepala sekolah saat mengikuti Diklat Calon Kepala sekolah. Semua kepala sekolah yang telah memiliki kompetensi kepala sekolah diberikan NUKS (Nomor Unik Kepala Sekolah). Semua bekal ini tentu belum cukup untuk melaksanakan semua program kerja, kepala sekolah masih membutuhkan tambahan berupa Coaching dan Mentoring.

Coaching atau pelatihan oleh pendamping sangat dibutuhkan. Seperti para pemain sepakbola, meskipun para pemain sudah punya pengetahuan tentang sepakbola, mereka tetap memerlukan hadirnya seorang pelatih. Para pelatih (coach) umumnya adalah orang-orang yang telah menjalani tugas sebagai kepala sekolah, atau boleh juga masih menjabat kepala sekolah dengan banyak prestasi. Kehadiran (coach) bagi para kepala sekolah memiliki banyak manfaat. Pertama, coach bisa memberikan contoh-contoh praktek terbaik yang pernah dilakukan. Praktek terbaik ini akan menjadi contoh atau semacam panduan bagi kepsek yang baru dilantik. Kedua, para coach merupakan mitra diskusi kepala sekolah yang khusus mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan program-program kepala sekolah.

Selain coaching, kepala sekolah baru juga butuh kegiatan mentoring. Seorang mentor diharapkan dapat selalu memantau kepala sekolah secara intens. Tugas mentoring ini selama ini umumnya dilaksanakan oleh pengawas sekolah. Mentoring dibutuhkan agar kepala sekolah fokus (tidak melenceng) dalam melaksanakan program kerjanya sekaligus mengingatkan para kepala sekolah jika melakukan hal-hal yang tidak efektif.

Jadi, melalui kegiatan coaching dan mentoring, para kepala sekolah diharapkan tidak hanya memperbaiki hal-hal yang jelek, namun juga memperbaiki segala sesuatu yang masih baik.

Coaching dan mentoring mungkin sudah dilakukan, tapi belum terprogram dengan baik. Tantangan dari Sekda Aceh agar dalam tempo enam bulan sekolah harus sudah ada perubahan, bukanlah hal mudah bagi kepala sekolah. Namun, sisi positifnya adalah kepala sekolah sudah memiliki target-target capaian jangka pendek. Disini panduan itu diberikan. Pemerintah Aceh telah memberikan panduan bahwa dalam enam bulan, minimal ada target yang disepakati untuk dicapai. Dalam rangka pencapaian target yang diberikan, para kepala sekolah perlu mendapatkan coaching dan mentoring yang diprogramkan dengan baik.

Alhamdulillah, perhatian pemerintah Aceh melalui pelaksanaan program BERSAHAJA dalam rangka pencapaian Visi Aceh Caroeng telah membuat kepala sekolah termotivasi untuk bergerak. Bersama para coach dan mentor, ada kemungkinan pencapaian program BERSAHAJA lebih mudah untuk dicapai. (*)

NURDIN, S.Pd. M.A adalah kepala SMKN Taman Fajar dan Ketua Dewan Pembina IGI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *