Rab. Okt 27th, 2021

ACEHSIANA.COM, Banda Aceh-Salah seorang guru SMKN 1 Panga, Aceh Jaya, T Julizal SPd tampil sebagai presenter seminar Internasional Conference on Early Childhood Education (ICECED). Kegiatan tersebut berlangsung di Anjong Mon Mata pada tanggal 22-23 November 2019.

Acara tersebut terselenggara berkat kerjasama PKK Aceh, Unsyiah dan Sultan Idris Education University, Malaysia. Kali ini, tema yang diangkat adalah “the importance of STEM Learning in Early Years of Education: Practice dan Pedagogies.

Kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi guru-guru, terutama guru PAUD dan TK, agar kreatif dan inovatif dalam mengajar sehingga terbentuk siswa yang berkarakter, memiliki rasa ingin tahu, dan daya juang tinggi agar dapat bersaing kelak di era revolusi industri 4.0

Secara resmi, acara tersebut dibuka oleh Plt. Gubernur Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah. Dalam sambutannya Ia menyampaikan, kita akan meraih masa keemasan Indonesia Emas pada tahun 2045. Harapannya, pada saat itu kita bisa meraih generasi emas, setelah bonusnya pada tahun 2030 sampai 2035. Ia juga menegaskan pentingnya peran para guru paud dalam mencetak generasi emas Indonesia.

Dalam sambutannya, Rektor Universtas Syiah Kuala, yang di wakili oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Humas, Dr. Hizir, menyampaikan bahwa Unsyiah sangat mendukung kegiatan seperti ini. “Kita semestinya memilki kemampuan IPTEK yang tinggi agar dapat bersaing dengan negara-negara lain. Jika tidak, kita akan tergilas, menjadi bangsa yang dimangsa bangsa lain.”

Kegiatan dilanjutkan dengan seminar dan workshop yang diisi oleh peneliti dari seluruh Indonesia, yang berasal dari berbagai latar belakang. Pakar pendidikan, guru, dosen, mahasiswa, dokter dan psikolog turut andil menyampaikan temuan-temuan dan inovasi mereka dalam menerapkan STEM dan kendala apa saja yang mereka jumpai. Forum juga menekankan pentingnya kesadaran dari seluruh pihak.

Dr. Rahmah Johar sebagai penggerak STEM Unsyiah memacu mahasiswa Prodi S1 maupun S2 Pendidikan Matematika untuk berpartisipasi sebagai presenter dalam ICECED, sehingga dua mahasiswanya Fatma Salinda dan Teuku Julizal, S.Pd berkesempatan menyampaikan hasil penelitian mereka berkaitan dengan STEM.

Fatma Salinda, mahasiswa S1 Pendidikan Matematika FKIP Unsyiah, memaparkan tentang Inisiatif Siswa selama Pembelajaran melalui STEM. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 6 Banda Aceh, bersama dengan tim peniliti, yaitu Dr. Rahmah Johar dan Dr. Cut Morina Zubainur. Selama ini guru mengajarkan materi yang berkaitan dengan skala dengan cara memberikan latihan kepada siswa menggunakan rumus yaitu skala adalah jarak pada peta dibagi dengan jarak sesungguhnya.

Fatma Salinda dalam paparannya menyampaikan, melalui STEM materi ini bisa dikemas menjadi aktivitas yang menarik dan bermanfaat untuk masyarakat, yaitu siswa diminta merancang rumah idaman dengan bantuan Google SketchUp.

“Kegiatan berbasis STEM ini dapat mengembangkan keterampilan di zaman globaliasi, salah satunya keterampilan dalam berinisiatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Inisiatif siswa meningkat, terlihat dari peningkatan jumlah indikator yang terpenuhi oleh siswa” jelas Fatma Salinda

Fatma Salinda menambahkan pembelajaran STEM ini selain memberikan pengalaman baru kepada siswa, juga mengajak siswa untuk aktif berdiskusi dengan berbagai Inisiatif dari anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas yang berbasis proyek

Sementara Teuku Julizal, S. Pd mahasiswa Magister (S2) Pendidikan Matematika Unsyiah, menyampaikan dalam presentasinya berjudul The effect of STEM (science Technology Engineering and Mathematics) toward students achievement about DONGKRAK PNEUMATIK, penerapan pembelajaran dengan pendekatan STEM sangat penting dilakukan oleh guru Indonesia khususnya guru yang ada di aceh, untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir kritis siswa.

T. Julizal membagikan pengalamannya dalam menerapkan STEM di SMK Negeri 1 Panga Kabupaten Aceh Jaya Siswa diminta membuat donkrak pneumatik untuk mengatasi masalah petani sawit dalam mengangkut sawit ke dalam truk, kelapa sawit merupakan komuditi terbesar di kabupaten tersebut. Selama ini masyarakat mengangkatnya dengan konvensional, sehingga dengan adanya inovasi seperti ini ia berharap kedepannya masyarakat mengaplikasikan konsep dari “dongkrak pneumatik” ini dalam aktivitasnya.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa STEM dapat meningkatkan kreativitas, inovasi dan proses berfikir kritis siswa.
“Siswa memberikan respon bahwa matematika itu sangat dekat dengan kehidupan nyata. Setelah lulus siswa tersebut benar-benar siap dalam menghadapi era revolusi industri 4.0”. tutup mahasiswa pasca sarjana pendidikan matematika Unsyiah ini.

Kontributor : Maswadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *